Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017
AI Buka 90 Juta Peluang Kerja Baru, Menkomdigi: Teknologi Ini Harus Diperkuat, Bukan Ditakuti
Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali
Selasa, 28 Oktober 2025 11:28 WIB
BATAMTODAY.COM, Jakarta - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, menegaskan bahwa kecerdasan artifisial (AI) merupakan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, bukan ancaman bagi tenaga kerja manusia.
Dalam acara Kumparan AI for Indonesia di The Ballroom Djakarta Theater, Kamis (23/10/2025), Meutya menyebut kemajuan AI memang berpotensi menggeser sebagian jenis pekerjaan, tetapi di sisi lain juga menciptakan jutaan lapangan kerja baru di berbagai sektor.
"Diperkirakan sekitar 85 juta pekerjaan di dunia akan tergantikan oleh AI pada 2025. Namun pada saat bersamaan, AI juga membuka peluang 90 juta pekerjaan baru di beragam bidang. Karena itu, AI perlu diwaspadai, tetapi tidak perlu ditakuti," ujar Meutya.
Menurut Meutya, Indonesia termasuk negara paling optimistis menghadapi transformasi AI. Berbagai survei menunjukkan masyarakat Indonesia memiliki kesiapan tinggi dalam menerima perkembangan teknologi tanpa rasa takut berlebihan.
"Indonesia dinilai sebagai salah satu negara yang paling siap dan tidak takut terhadap AI. Ini pertanda baik bagi kemajuan digital nasional," ucapnya.
Meutya menekankan bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya. "Kita perlu melihat AI dari perspektif baru, bukan sekadar angka atau data, tetapi bagaimana teknologi ini dapat memperkuat manusia," katanya.
Pemerintah saat ini tengah menyusun Peta Jalan Nasional AI sebagai panduan strategis lintas sektor. Regulasi tersebut ditargetkan terbit melalui Peraturan Presiden (Perpres) pada awal 2026.
"Insyaallah pada awal 2026, Perpres tentang peta jalan ini sudah dapat diterbitkan dan menjadi pedoman bersama," jelas Meutya.
Selain menyiapkan regulasi, pemerintah juga fokus pada pemerataan akses digital agar manfaat AI dapat dirasakan secara inklusif oleh seluruh masyarakat. Salah satu langkah konkret adalah pelelangan frekuensi 1,4 GHz untuk memperluas jangkauan internet murah dan merata.
"Yang juga penting adalah menjadikan AI sebagai teknologi yang inklusif. Kami sudah melelang frekuensi 1,4 GHz agar akses internet semakin terjangkau dan merata," ujarnya.
Menkomdigi menutup paparannya dengan ajakan kepada seluruh pihak untuk memanfaatkan AI secara bijak dan bertanggung jawab. "Jika digunakan dengan benar, AI akan membawa banyak kebaikan. Demokratisasi teknologi menuntut tanggung jawab bersama, dan kita semua punya peran penting dalam mengarahkan perkembangan AI ke masa depan yang positif," pungkas Meutya.
Editor: Gokli
Berita Lainnya
Berita Terbaru
Berita tidak ditemukan
