Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017
Aktivis Ingatkan Risiko Gizi Anak di Pengungsian Banjir Sumatra
Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali
Selasa, 3 Februari 2026 09:28 WIB
BATAMTODAY.COM, Jakarta - Penyaluran bantuan pangan bagi korban banjir bandang di Sumatra dinilai belum sepenuhnya memperhatikan kebutuhan gizi anak. Di sejumlah lokasi pengungsian yang telah berlangsung lebih dari dua bulan, bantuan berupa kental manis masih diberikan kepada anak-anak dan balita. Praktik ini dikhawatirkan berdampak buruk bagi kesehatan dan status gizi mereka.
Aktivis sosial Inayah Wahid mengatakan, penanganan bencana seharusnya tidak lagi semata berorientasi pada upaya bertahan hidup. Menurut dia, ketika masa pengungsian berlangsung lama, perhatian perlu diarahkan pada kualitas asupan pangan, terutama bagi kelompok rentan. Hal itu ia sampaikan dalam podcast Bossmama yang diunggah di YouTube, Minggu, 28 Januari 2026.
"Bantuan sering kali masih berhenti pada logika survival. Padahal, dalam pengungsian yang berkepanjangan, pemenuhan gizi menjadi hal yang krusial," kata Inayah.
Ia menyoroti masih maraknya bantuan makanan instan, termasuk mie instan dan kental manis. Tanpa pemahaman gizi yang memadai, pola bantuan semacam itu berpotensi membentuk kebiasaan makan anak yang tidak sehat.
Mengacu pada informasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kental manis merupakan produk susu yang telah melalui proses penguapan dan penambahan gula. Kandungan proteinnya rendah, sementara kadar gulanya tinggi. Penambahan gula berfungsi sebagai pengawet agar produk lebih tahan lama.
Tingginya kadar gula tersebut dinilai tidak sesuai untuk konsumsi anak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2015 merekomendasikan asupan gula tambahan bagi anak tidak melebihi 10 persen dari total kebutuhan kalori harian.
Inayah mendorong para pemberi bantuan agar lebih selektif dalam memilih pangan. Ia menyarankan penyaluran susu yang sesuai atau makanan berbasis bahan pangan utuh (real food) yang dinilai lebih aman dan bergizi.
"Kental manis itu bukan susu. Lebih baik mengirim susu yang sesuai atau makanan real food yang nilai gizinya jelas," ujarnya.
Ia mengajak pemerintah, relawan, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dalam penyaluran bantuan pangan di wilayah bencana. Menurut dia, saat ini tersedia berbagai produk makanan kemasan yang berbasis pangan utuh dan dapat menjadi alternatif dibandingkan produk tinggi gula dengan nilai gizi rendah.
Editor: Gokli
Berita Lainnya
Berita Terbaru
Berita tidak ditemukan
