Logo

Cari berita

Cari artikel terbit. Mulai mengetik minimal dua karakter.

Alissa Wahid Tegaskan Petugas Haji Garda Terdepan Keamanan dan Kenyamanan Jamaah

Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali

Rabu, 21 Januari 2026 08:08 WIB
Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid saat menjadi pembicara di Diklat PPIH 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Senin (19/1/2026). (Foto: Saibansah/Batamtoday)
Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid saat menjadi pembicara di Diklat PPIH 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Senin (19/1/2026). (Foto: Saibansah/Batamtoday)

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid menegaskan bahwa petugas haji memegang peran krusial sebagai garda terdepan dalam menjamin keamanan, kenyamanan, dan keselamatan jamaah haji, terutama kelompok lanjut usia dan perempuan.

Penegasan itu disampaikan Alissa saat memberikan pembekalan kepada peserta Diklat (Pendidikan dan Pelatihan) PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah Haji) 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Senin (19/1/2026).

Menurut Alissa, tugas petugas haji tidak sekadar administratif, melainkan mengandung tanggung jawab moral negara dalam memastikan pelayanan optimal bagi seluruh jamaah, khususnya lansia yang memiliki kerentanan lebih tinggi.

"Negara memiliki kewajiban moral untuk memberikan pelayanan terbaik. Karena itu, peran petugas haji sangat besar, terutama dalam mendampingi jamaah lanjut usia," kata Alissa.

Ia menilai pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan lansia menjadi kunci kelancaran ibadah sekaligus upaya menekan risiko gangguan kesehatan, tingkat kesakitan, hingga kematian jamaah.

Alissa menambahkan, kehadiran petugas haji menjadi sumber rasa aman dan nyaman bagi jamaah. Komitmen negara dalam melayani jamaah lansia, kata dia, harus diwujudkan melalui kualitas pelayanan yang maksimal.

Dalam kesempatan itu, Alissa juga menyinggung konsep petugas haji yang kerap disebut semi-militer. Ia menilai nilai-nilai militer seperti disiplin, soliditas, semangat kebersamaan, dan ketahanan fisik dapat diterapkan secara positif.

Namun, pendekatan militeristik yang kaku dan serba satu komando dinilai kurang tepat. Pelayanan haji, menurutnya, menuntut fleksibilitas, empati, serta kemampuan mengambil keputusan cepat sesuai kondisi lapangan.

Selain itu, Alissa menekankan pentingnya penyelenggaraan haji yang ramah perempuan. Ia menilai sistem pelayanan haji di Arab Saudi masih didominasi perspektif laki-laki, sehingga kebutuhan perempuan kerap kurang mendapat perhatian.

"Kesadaran ini penting agar kebutuhan jamaah perempuan tidak dipandang sebagai beban, melainkan sebagai realitas yang harus difasilitasi," ujarnya.

Pelayanan ramah perempuan, lanjut Alissa, mencakup ketersediaan fasilitas sanitasi yang memadai, perlengkapan pendukung, serta jumlah pembimbing ibadah perempuan yang proporsional.

Berdasarkan pengalamannya dalam tim penanganan jamaah haji perempuan pada 2022, Alissa mengungkapkan bahwa jumlah jamaah perempuan lebih banyak dibandingkan jamaah laki-laki. Kondisi tersebut melahirkan sejumlah rekomendasi, termasuk peningkatan porsi pembimbing ibadah perempuan dari 18 persen menjadi 36 persen.

Ia menyebut, kesadaran akan kebutuhan jamaah perempuan juga melatarbelakangi kebijakan menghadirkan Amirul Hajj perempuan. "Kebutuhan jamaah perempuan hanya bisa dipahami secara utuh oleh perempuan itu sendiri," kata Alissa mengakhiri.

Editor: Dardani

Berita Lainnya

Belum ada berita lain untuk ditampilkan.

Berita Terbaru

Berita tidak ditemukan