Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017
BP Batam Bentuk Task Force Evaluasi PKS dengan PT Moya, Fokus Tangani 18 Wilayah Krisis Tekanan Air
Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali
Rabu, 4 Februari 2026 09:28 WIB
BATAMTODAY.COM, Batam - Badan Pengusahaan (BP) Batam membentuk Tim Task Force untuk mengevaluasi Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan PT Moya Indonesia sebagai pengelola layanan air bersih di Kota Batam. Langkah ini diambil sebagai respons atas masih berlanjutnya gangguan distribusi air bersih di sejumlah wilayah.
Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, mengatakan pembentukan tim tersebut merupakan tindak lanjut rapat bersama PT Moya yang dipimpin langsung oleh Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra beberapa hari lalu.
- BACA JUGA: Wakil Kepala BP Batam Komitmen Benahi Permasalahan Air, Wilayah Stres Area Jadi Prioritas
"Tim ini dibentuk untuk mengkaji ulang PKS dengan PT Moya agar pengaturannya lebih jelas, rinci, dan sesuai dengan kondisi di lapangan," ujar Ariastuty saat dikonfirmasi, Selasa (3/2/2026).
Tim Task Force berada di bawah pembinaan jajaran pimpinan BP Batam. Denny Tondano ditunjuk sebagai Ketua Tim, didampingi Iyus Rusmana sebagai Wakil Ketua I dan Fesly Abadi Paranoan sebagai Wakil Ketua II, dengan melibatkan seluruh unit kerja terkait.
Ariastuty, yang akrab disapa Tuty, menjelaskan bahwa hasil evaluasi awal menemukan sejumlah klausul dalam PKS yang perlu disempurnakan. Oleh karena itu, BP Batam berencana melakukan amendemen perjanjian dengan menyesuaikan kondisi aktual, baik di sektor hulu maupun hilir.
- BACA JUGA: Lima Hari Tak Dialiri Air Bersih, Warga Perumahan Bukit Raya Berencana Demo PT Moya Batam
"Di sisi hulu, evaluasi mencakup kondisi waduk serta kualitas air baku. Sementara di sisi hilir, fokusnya pada pembangunan dan penguatan jaringan pipa distribusi," jelasnya.
Menurut Tuty, proses amendemen PKS ditargetkan dapat dilaksanakan pada tahun ini setelah melalui pembahasan mendalam serta koordinasi dengan BPK, BPKP, dan Kejaksaan, guna memastikan aspek tata kelola dan kepatuhan hukum tetap terjaga. "Amendemen kami upayakan selesai tahun ini dengan tetap mengedepankan prinsip akuntabilitas dan kepatuhan terhadap regulasi," katanya.
18 Wilayah Alami Krisis Tekanan Air
BP Batam mencatat saat ini terdapat 18 wilayah di Kota Batam yang masuk kategori stress area, yakni kawasan dengan tekanan distribusi air rendah. Di sejumlah titik, air tidak mengalir sama sekali, sementara di lokasi lain hanya mengalir pada malam hari selama dua hingga tiga jam.
Wilayah terdampak meliputi Tanjung Uma, Tiban Lama, Tanjung Sengkuang, Batu Merah, Bengkong, Baloi, serta beberapa kawasan perumahan lainnya.
Sebagai langkah jangka pendek, BP Batam melakukan rekayasa distribusi air di wilayah tertentu seperti Tanjung Sengkuang dan Batu Merah. Namun karena jaringan distribusi saling terhubung dengan kawasan Nagoya dan Bengkong, pengaturan tersebut turut berdampak pada wilayah lain.
"Distribusi harus diatur dengan cermat agar seluruh masyarakat tetap mendapatkan pasokan air bersih," ujar Tuty.
Selain itu, BP Batam melakukan flushing pada jaringan pipa yang terindikasi mengalami penyumbatan. Di wilayah Bengkong, ditemukan tiga titik sumbatan yang menghambat kelancaran aliran air. BP Batam juga akan memasang logger untuk mengendalikan distribusi air ke kawasan perumahan secara lebih terukur, meskipun proses teknisnya membutuhkan waktu.
Skema Proyek 50:50 dan Solusi Jangka Panjang
Dari sisi anggaran, BP Batam pada tahun ini mengalokasikan sekitar Rp 141 miliar untuk sembilan proyek penanganan stress area. Sementara sembilan wilayah lainnya belum terakomodasi dalam anggaran berjalan.
Untuk mempercepat penanganan, pimpinan BP Batam membuka opsi agar PT Moya dapat menangani sembilan proyek lainnya melalui skema pembagian peran 50:50 antara BP Batam dan PT Moya. "Harapannya, seluruh proyek untuk 18 stress area dapat mulai dikerjakan tahun ini, meskipun sebagian penyelesaiannya kemungkinan bergeser ke tahun depan," kata Tuty.
Sebagai solusi jangka panjang, BP Batam tengah membangun Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sei Ladi untuk memperkuat suplai air ke wilayah Tanjung Uma. Sementara proyek jaringan distribusi untuk kawasan Tanjung Sengkuang, Batu Merah, dan Bengkong akan dilelang pada Februari dan ditargetkan mulai dikerjakan pada Maret, dengan estimasi selesai pada Juni hingga Juli.
Dalam kondisi darurat, BP Batam juga mengintensifkan distribusi air bersih menggunakan truk tangki. Penyaluran dilakukan melalui koordinasi dengan camat, lurah, RT/RW, serta aparat kepolisian setempat.
Saat ini, BP Batam mengoperasikan 15 unit truk tangki dan menyewa tambahan 10 unit, dengan kemungkinan penambahan armada sesuai kebutuhan di lapangan. "Jika masih kurang, armada akan kami tambah. Masyarakat tetap harus terlayani," tegas Tuty.
BP Batam menegaskan bahwa penanganan 18 wilayah stress area menjadi prioritas utama melalui langkah darurat sekaligus pembenahan menyeluruh sistem distribusi air bersih di Kota Batam.
Editor: Gokli
Berita Lainnya
Berita Terbaru
Berita tidak ditemukan
