Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017
BPH Migas dan Pertamina Percepat Normalisasi Pasokan BBM di Aceh Pascabencana
Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali
Senin, 19 Januari 2026 13:28 WIB
BATAMTODAY.COM, Aceh - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bersama PT Pertamina Patra Niaga terus mengintensifkan upaya normalisasi pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Provinsi Aceh, khususnya di wilayah terdampak bencana alam, yakni Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah.
Hingga pertengahan Januari 2026, pasokan BBM di Aceh secara umum terpantau aman, dengan 97 persen Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah terdampak telah kembali beroperasi.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas, saat kunjungan kerja di Aceh, memastikan distribusi BBM tetap menjangkau masyarakat meski sejumlah akses jalan dan jembatan terputus akibat longsor. Distribusi bahkan dilakukan hingga ke daerah terpencil seperti Desa Uning Mas, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah.
"Di Bener Meriah masih terdapat banyak akses jalan dan jembatan yang terputus. Namun, distribusi BBM tetap kami pastikan berjalan. Aceh juga diberikan keringanan pembelian BBM bersubsidi secara manual tanpa barcode agar masyarakat tidak panic buying dan dapat tetap menjalankan aktivitas, termasuk menyalakan genset bantuan pemerintah untuk penerangan sementara," ujar Wahyudi, Sabtu (17/1/2026).
Berdasarkan Keputusan Gubernur Aceh, masa tanggap darurat bencana di wilayah tersebut telah memasuki tahap keempat yang berlangsung dari 9 hingga 22 Januari 2026, setelah sebelumnya diberlakukan sejak akhir November 2025. BPH Migas menilai kebijakan keringanan pembelian Jenis BBM Tertentu (JBT) dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) berjalan efektif serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak bencana.
Wahyudi menjelaskan, kondisi jalan yang masih dalam tahap perbaikan menyebabkan armada mobil tangki yang dapat melintas terbatas pada kapasitas sekitar 8 kiloliter (KL). Untuk mengatasi hal tersebut, tim di lapangan menerapkan skema distribusi khusus dengan menggunakan jeriken dan drum yang diangkut kendaraan double cabin 4x4 guna menjangkau desa-desa terisolasi.
Selain itu, Pertamina menyiapkan hub suplai BBM di Blang Rakal, Kabupaten Bener Meriah, sebagai terminal bayangan yang mendapat pasokan dari Integrated Terminal Lhokseumawe. Skema ini memungkinkan distribusi BBM menggunakan truk tangki berkapasitas lebih kecil agar dapat menjangkau wilayah perbukitan dan pegunungan.
"BBM dari Integrated Terminal Lhokseumawe diangkut dengan truk 16 KL, kemudian dipindahkan ke truk 8 KL dan disalurkan secara estafet menggunakan jeriken atau drum. Ini merupakan bentuk nyata kehadiran negara di tengah masyarakat terdampak bencana," tegas Wahyudi.
Sepanjang 2025, kebutuhan Biosolar di Provinsi Aceh, termasuk untuk penanganan bencana, tercatat mencapai 428.324 KL, sementara penyaluran Pertalite mencapai 576.147 KL. Selama periode bencana pada akhir November hingga Desember 2025, terjadi peningkatan kebutuhan BBM sekitar 8 persen, meski secara nasional realisasi masih berada di bawah kuota, yakni antara 95 hingga 98 persen.
Wahyudi juga mengapresiasi peran PT Pertamina Group dalam menjaga kelancaran pasokan energi di Aceh.
"Pertamina Patra Niaga memiliki tanggung jawab penuh dalam menormalisasi penyediaan dan penyaluran BBM di Aceh, khususnya di wilayah terdampak bencana. Implementasi di lapangan tetap dilakukan sesuai tata kelola dan ketentuan yang berlaku," katanya.
Sementara itu, Anggota Komite BPH Migas Bambang Hermanto turut mengapresiasi kerja keras Pertamina Patra Niaga yang memanfaatkan berbagai moda transportasi, termasuk jalur darat, laut, hingga udara, untuk memastikan distribusi BBM tetap berjalan.
"Secara umum kondisi di lapangan mulai pulih, meski masih ada akses jalan yang belum dapat dilalui. Keringanan pembelian BBM harus dimanfaatkan sesuai peruntukannya, dan perlu disosialisasikan kembali saat masa tanggap darurat berakhir agar masyarakat tidak kaget," ujarnya.
Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Wilayah Sumatera Bagian Utara, Sunardi, menegaskan bahwa stok BBM di Aceh dalam kondisi aman. Saat ini, stok Biosolar di Integrated Terminal Lhokseumawe mencapai lima hari, sementara Pertalite sekitar 5,6 hari, dan akan bertambah dengan kedatangan kapal pengangkut BBM dalam waktu dekat.
"Melalui skema distribusi estafet, pasokan BBM ke Bener Meriah telah mencapai sekitar 85 persen dari kebutuhan normal, sementara Aceh Tengah sekitar 75 persen. Kami berharap cuaca membaik dan jalur segera terbuka agar distribusi dapat kembali normal langsung dari Depot Lhokseumawe," pungkas Sunardi.
Editor: Gokli
Berita Lainnya
Berita Terbaru
Berita tidak ditemukan
