Logo

Cari berita

Cari artikel terbit. Mulai mengetik minimal dua karakter.

Ekonomi Kepri Tumbuh Tertinggi di Sumatra, Bank Indonesia Dorong Arah Pembangunan ke Ekonomi Biru

Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali

Selasa, 4 November 2025 13:28 WIB
Kepri Economic Forum 2025 yang digelar di Ballroom Hotel Grand Mercure Batam Center, Selasa (4/11/2025), pertumbuhan ekonomi Kepri tetap solid dengan inflasi terjaga di kisaran 2,8 persen. (Foto: Aldy)
Kepri Economic Forum 2025 yang digelar di Ballroom Hotel Grand Mercure Batam Center, Selasa (4/11/2025), pertumbuhan ekonomi Kepri tetap solid dengan inflasi terjaga di kisaran 2,8 persen. (Foto: Aldy)

BATAMTODAY.COM, Batam - Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatra. Berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI) dalam Kepri Economic Forum 2025 yang digelar di Ballroom Hotel Grand Mercure Batam Center, Selasa (4/11/2025), pertumbuhan ekonomi Kepri tetap solid dengan inflasi terjaga di kisaran 2,8 persen.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ajang Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Kepri 2025 yang mengusung tema "Unlocking Kepri's Inclusive Growth Potential Through the Blue Economy". Tema ini menegaskan arah pembangunan ekonomi Kepri yang berfokus pada potensi kemaritiman, perikanan, pariwisata bahari, dan keberlanjutan lingkungan.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Kepri, Ronny Widijarto, mengatakan bahwa capaian ekonomi tahun ini menunjukkan fondasi makroekonomi daerah yang kuat dan berdaya tahan. "Kita bersyukur pertumbuhan ekonomi Kepri tetap tinggi, sementara inflasi berhasil dijaga stabil di bawah tiga persen. Ini kombinasi yang langka di tengah tekanan ekonomi global," ujar Ronny.

Berdasarkan data BI, pertumbuhan kredit perbankan di Kepri melonjak hingga 20,6 persen, naik dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 10 persen. Kenaikan signifikan ini ditopang oleh kredit korporasi yang tumbuh 26,3 persen, mencerminkan meningkatnya aktivitas industri dan investasi di daerah.

Ronny menegaskan, tantangan ke depan tidak hanya menjaga laju pertumbuhan, tetapi juga memastikan pemerataan manfaat ekonomi bagi seluruh lapisan masyarakat. "Pertumbuhan tinggi saja tidak cukup. Kita ingin pertumbuhan yang inklusif, dirasakan oleh semua pihak --dari industri besar, UMKM, hingga rumah tangga," jelasnya.

Fokus Pengembangan Ekonomi Biru

Dari sisi struktur ekonomi, sektor industri pengolahan, perdagangan, dan ekspor masih menjadi motor utama perekonomian Kepri. Namun BI menilai, kontribusi konsumsi rumah tangga dan investasi domestik perlu diperkuat untuk menjaga keseimbangan ekonomi.

Sejalan dengan tema forum, BI mendorong pengembangan ekonomi biru (Blue Economy) sebagai pilar baru pembangunan daerah. Pendekatan ini menitikberatkan pada pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan, peningkatan nilai tambah industri perikanan, serta pengembangan pariwisata bahari berbasis masyarakat pesisir.

"Dengan potensi maritim yang besar, Kepri memiliki posisi strategis untuk menjadi model ekonomi biru di Indonesia. Ini bukan sekadar pertumbuhan ekonomi, tapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat pesisir," tambah Ronny.

Forum ekonomi ini dihadiri oleh pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, dan lembaga keuangan. Diskusi berfokus pada strategi memperkuat daya saing Kepri melalui investasi berkelanjutan, diversifikasi ekspor, serta inovasi sektor keuangan.

"Pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan hanya bisa tercapai jika seluruh pemangku kepentingan --pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat-- bergerak bersama," tutup Ronny.

Dengan kinerja ekonomi yang terus menanjak dan fokus pembangunan yang berorientasi pada ekonomi biru dan keberlanjutan, Provinsi Kepulauan Riau kini berada di jalur strategis untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi hijau dan inklusif di wilayah barat Indonesia.

Editor: Gokli

Bagikan:

Berita Lainnya

Belum ada berita lain untuk ditampilkan.

Berita Terbaru

Berita tidak ditemukan