Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017
Hidup dan Matiku untukmu, Gorila...
Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali
Sabtu, 21 Mei 2016 08:00 WIB
DIAN FOSSEY adalah sosok seorang wanita yang mengungkap kepada dunia, bagaimana gorilla gunung hidup. Lalu, perempuan ini pun berjuang mati-matian untuk menyelamatkan mereka. Siapakah wanita yang meninggal secara misterius itu?
Tanggal 26 Desember 1985 Dian meninggal secara misterius di Rwanda. Ia adalah pakar primata yang mengubah cara kita memandang gorilla.
Sebelum penelitian Fossey, gorila memiliki reputasi sebagai hewan berbahaya yang dapat membunuh manusia. Fossey menghancurkan mitos ini. Hidup bersama dengan sekelompok gorilla gunung di hutan Rwanda, dia menunjukkan bahwa kera besar ini sebenarnya merupakan raksasa yang lembut, dengan kepribadian personal dan kehidupan sosial yang kaya. Dilihat dari banyak hal, mereka mirip seperti kita.
Tetapi gorilla gunung juga terus berkurang, habitat mereka terganggu oleh pertanian dan tergerus oleh peperangan serta konflik sipil. Fossey menghabiskan tahun terakhirnya untuk berjuang di sebuah pertempuran untuk menyelamatkan mereka, sampai akhirnya dia meninggal pada 1985.
Film Gorillas in the Mist yang dirilis pada 1988 menampilkan versi fiksi dari kisah Fossey. Kami berupaya untuk menyampaikan peristiwa yang benar-benar terjadi dengan melakukan pembicaraan mendalam dengan kolega dan teman-teman Fossey. Salah satunya Ian Redmond, menyediakan hampir seluruh foto-foto ini.
Dian Fossey tidak sengaja menjadi pakar primata. Dia mencintai alam Afrika dan terinspirasi untuk berkunjung ke sana pada 1963.
Selama perjalanan itu dia bertemu dengan palaeoanthropolog Louis Leakey. Dia fokus mempelajari fosil nenek moyang kita, tetapi harus menyadari bahwa untuk benar-benar memahami bagaimana kita berevolusi, kita juga harus mempelajari tentang kerabat terdekat kita: kera.
Leakey telah membantu peneliti perempuan yang lain, Jane Goodall, yang melakukan penelitian untuk jangka waktu yang lama tentang simpanse. Sekarang dia ingin memulai riset yang serupa terhadap gorila.
Saat itu hanya sedikit yang mengetahui tentang gorila gunung, satu dari sub spesies gorila dari gorilla timur. Dalam film, hewan ini digambarkan sebagai pelaku kekerasan yang kejam, dan dongeng dari para pemburu menyebutkan siapa pun yang mendekati mereka akan dibunuh.
Tiga tahun setelah pertemuan mereka, Leakey mempekerjakan Fossey untuk mempelajari gorila gunung di Republik Demokratik Kongo. Tetapi dia kemudian meninggalkan negara itu akibat konflik.
Jadi pada September 1967, Fossey membangun sebuah pos terdepan di negara sebelahnya, Rwanda, dengan nama Pusat Penelitian Karisoke. Ini terdiri dari beberapa kabin di atas gunung berapi Virunga.
Area ini merupakan rumah bagi gorila gunung Virunga, yang populasinya hanya ada dua di dunia, satu lagi di Uganda.
Ada sekitar 475 ekor pada awal 1960an, tetapi jumlah mereka menurun karena perburuan dan kehilangan habitat. Di tahun 1980-an populasinya menyusut tajam hingga mencapai 254 ekor.
Saya meniru perilaku normal alami mereka, seperti makan, mengunyah batang seledri atau menggaruk diri saya sendiri.
Fossey berupaya untuk memahami dan melindungi sejumlah gorilla gunung, sebelum mereka punah. Pekerjaan awalnya adalah bersikap telaten, untuk mendekati gorilla dia meniru perilaku hewan tersebut.
Seperti dijelaskan kepada BBC pada 1984: “Saya merupakan pribadi yang membatasi diri dan saya merasa gorilla juga seperti itu, jadi saya meniru perilaku alami mereka, perilaku normal seperti makan, mengunyah batang seledri atau menggaruk diri saya sendiri."
Kesabaran dan sikap tenang Fossey terbayar sudah. Dia mendapatkan kepercayaan dari gorilla dan dapat mengamati mereka tanpa gangguan. Dia dengan cepat dapat mengetahui gorilla mana yang berasal dari sebuah keluarga, dan mempelajari peran penting yang dimainkan oleh jantan “berpunggung perak” dalam setiap keluarga.
Metode untuk mendapatkan kepercayaan mereka disebut proses adaptasi, yang merupakan hadiah terbesar dari Fossey kepada dunia, kata ahli konservasi gorilla, Ian Redmond, yang bekerja dengan Fossey selama lebih dari tiga tahun. Hasilnya mengarahkan ke pertemanan manusia dan gorilla.
“Saya serius tentang itu,” kata Redmond. “Gorila sungguh seperti kita dan mereka dapat melihat bahwa mereka seperti kita. Kita dikagumi mereka seperti mereka kagum pada kita. Mereka sesungguhnya mengamati kita secara fisik, mencibirkan bibir ke bawah dan melihat gigi kita. Mereka sangat tertarik mengenai hewan mirip gorilla ini, yang melakukan sesuatu yang berbeda (bagi mereka)."
Pada 1970, hanya tiga tahun setelah memulai pekerjaan lapangan, Fossey muncul dalam sampul majalah National Geographic. Di situlah dia pertama kali mengatakan kepada dunia mengenai kehidupan gorila gunung.
“Gorila merupakan hewan yang paling dianggap negatif oleh dunia,” tulis Fossey. “Setelah lebih dari 2.000 jam melakukan observasi langsung, saya dapat menghitung kurang dari lima menit apa yang disebut sebagai perilaku agresif.”
Dunia dengan cepat memperhatikannya. “Inilah seorang perempuan yang sendirian di Afrika tengah mempelajari hewan yang dianggap berbahaya yang menakutkan oleh orang lain,” jelas Amy Vedderdari, dari Yale School of Forestry & Environmental Studies di New Haven, Connecticut, AS yang bekerja dengan Fossey sejak awal 1978.
Fossey juga memberi nama gorilla yang dia pelajari dan menyebutkan karakteristik mereka, seperti yang dilakukan Jane Goodall terhadap simpanse. "Itu sangat menginspirasi. Menimbulkan ketertarikan di tingkat global dan kepedulian terhadap gorilla,” kata Vedder.
Hidup di sebuah daerah terpencil dan ditemani hanya sedikit orang tampaknya cocok dengan karakter Fossey. Tetapi ini tidak berlaku bagi setiap orang yang bekerja di sana. Pada malam hari terdengar seperti bunyi berderit dan rintihan di hutan, tampak seperti tempat yang menakutkan, kata Redmond.
Fossey menuntut loyalitas penuh, tetapi Anda tidak pernah tahu apakah dia akan menyukai atau membenci Anda hari itu.
Dia memberikan sedikit tanda persahabatan atau kenyamanan. Dia bukan orang yang mudah untuk diajak hidup bersama dan bekerja sama, dan sering kali memilih untuk menyendiri.
Dia dapat bersikap baik dan karismatik secara ekstrem dalam satu menit dan kemudian bersikap memusuhi. Hari-hari berlalu dimana dia jarang berkomunikasi dengan setiap orang kecuali untuk mengedarkan catatan yang ditulis tangan.
Teman dan sesama pakar primata Kelly Stewart menghabiskan beberapa tahun bekerja sama dengan Fossey, awalnya dia merupakan muridnya.
Dia merupakan orang yang sulit untuk diajak berteman, kata Stewart. "Dia menuntut loyalitas penuh, tetapi Anda tidak akan pernah tahu apakah dia akan menyukai Anda atau membenci Anda hari itu. Dia bisa sangat menarik, sangat menyenangkan dan mendukung. Dan kemudian dia dapat memicu semangat Anda.” (Sumber: BBC Indonesia)
Editor: Dardani
Berita Lainnya
Berita Terbaru
Berita tidak ditemukan
