Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017
Indonesia-SEAFDEC Perkuat Kolaborasi Regional Atasi Polusi Mikroplastik Demi Keberlanjutan Perikanan
Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali
Selasa, 8 Juli 2025 13:28 WIB
BATAMTODAY.COM, Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Southeast Asian Fisheries Development Center/Inland Fishery Resources Development and Management Department (SEAFDEC/IFRDMD) memperkuat kerja sama dalam upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) untuk menanggulangi polusi mikroplastik yang mengancam ekosistem laut dan air tawar di kawasan Asia Tenggara.
Komitmen tersebut terwujud melalui kegiatan Workshop on Mitigation and Strategic Policy for Combating Microplastic Pollution for Marine and Freshwater Fisheries in Southeast Asia Region: Advancing the Blue Economy through Strategies for Managing Plastic Pollution in Aquatic Systems yang berlangsung di Jakarta pada 2-3 Juli 2025. Lokakarya ini turut didukung Japan-ASEAN Integration Fund (JAIF) dan dihadiri sekitar 40 peserta dari negara-negara Asia Tenggara serta Jepang.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP), I Nyoman Radiarta, menegaskan mitigasi polusi mikroplastik menjadi langkah penting dalam membangun ekosistem perairan yang lebih sehat sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.
"Polusi mikroplastik merupakan tantangan lintas batas yang terus berkembang dan memerlukan perhatian serius serta tindakan kolaboratif. Seiring meningkatnya kekhawatiran global terhadap polusi plastik di laut, perhatian yang sama juga perlu diberikan kepada sistem air tawar, terutama yang menopang perikanan darat dan kehidupan masyarakat lokal," ujar Nyoman dalam keterangan resmi KKP di Jakarta, Sabtu (5/7/2025).
Sebagai bentuk komitmen, KKP telah menggulirkan berbagai program penanganan polusi plastik, seperti kampanye Bulan Cinta Laut yang melibatkan nelayan dan masyarakat pesisir dalam membersihkan sampah laut serta mengedukasi pengelolaan laut secara berkelanjutan. Selain itu, KKP juga menangani persoalan Abandoned, Derelict, Lost, Fishing Gear (ADLFG), mengelola sampah di pelabuhan perikanan, memperkuat penegakan kebijakan, dan memperluas edukasi konservasi laut maupun air tawar secara inklusif.
Nyoman menilai lokakarya ini menjadi ruang penting untuk berbagi pengalaman, merumuskan kebijakan strategis, dan melahirkan ide-ide inovatif guna meningkatkan kesehatan ekosistem perikanan serta lingkungan perairan. "Dengan kerja sama lintas batas dan multidisiplin, kita dapat menciptakan solusi yang konkret, terintegrasi, dan berdampak nyata," tegas Nyoman.
Deputy Secretary General of SEAFDEC, Koichi Tahara, mengungkapkan harapannya agar lokakarya ini menjadi momentum mempererat kolaborasi regional dalam menghadapi polusi mikroplastik. "Kami berharap kegiatan ini dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang aplikatif serta membangun mekanisme bersama yang jelas untuk memantau dan menekan polusi plastik," tutur Koichi.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menegaskan bahwa polusi mikroplastik merupakan ancaman serius terhadap keberlanjutan sumber daya perikanan di Indonesia, karena berdampak langsung pada kesehatan ekosistem laut.
Editor: Gokli
Berita Lainnya
Berita Terbaru
Berita tidak ditemukan
