Logo

Cari berita

Cari artikel terbit. Mulai mengetik minimal dua karakter.

Inflasi Kepri November 2025 Melandai ke 0,23 Persen, Tekanan Harga Ditahan Pasokan Pangan

Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali

Selasa, 2 Desember 2025 12:28 WIB
Inflasi Kepri November 2025 Melandai ke 0,23 Persen, Tekanan Harga Ditahan Pasokan Pangan

BATAMTODAY.COM, Batam - Inflasi Kepulauan Riau (Kepri) pada November 2025 tercatat melambat. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepri naik 0,23 persen secara bulanan (mtm), lebih rendah dibanding Oktober yang mencapai 0,36 persen. Secara tahunan (yoy), inflasi Kepri berada di level 3,00 persen, turun tipis dari bulan sebelumnya sebesar 3,01 persen, namun masih lebih tinggi dari inflasi nasional yang tercatat 2,72 persen.

Tiga daerah IHK di Kepri sama-sama mengalami inflasi, yakni Batam sebesar 0,25 persen (mtm), Tanjungpinang 0,23 persen (mtm), dan Karimun 0,07 persen (mtm). Dengan capaian tersebut, Kepri menempati posisi ketiga inflasi bulanan tertinggi di Sumatera.

Transportasi Jadi Pendorong Utama

Tekanan inflasi November terutama bersumber dari kelompok Transportasi yang mencatat kenaikan 1,99 persen (mtm) dengan andil 0,27 persen. Kenaikan ini dipicu meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang akhir tahun serta kenaikan harga bahan bakar angkutan udara.

Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya juga mengalami inflasi 0,37 persen (mtm), menyumbang 0,03 persen. Kenaikan harga emas akibat ketidakpastian geopolitik menjadi pendorong utama kelompok ini. Selain itu, harga komoditas hortikultura seperti kangkung dan bayam turut naik karena tingginya curah hujan di sejumlah wilayah Kepri.

Meski demikian, tekanan inflasi lebih tinggi tertahan oleh deflasi pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau sebesar 0,33 persen (mtm) dengan andil deflasi 0,10 persen. Pasokan komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai hijau, tomat, bayam, dan kangkung yang tetap terjaga menjadi faktor penekan.

Peran TPID dan BI Menjaga Stabilitas Harga

Terkendalinya inflasi di Kepri tidak lepas dari koordinasi erat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Bank Indonesia bersama TPID se-Kepri terus memperkuat pelaksanaan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) melalui strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Sepanjang November 2025, sejumlah program stabilisasi harga dijalankan, di antaranya High Level Meeting TPID Provinsi Kepri dan Kota Tanjungpinang, publikasi iklan layanan masyarakat untuk menjaga ekspektasi inflasi, edukasi mengenai perkembangan inflasi, serta kegiatan capacity building klaster pertanian ke Jawa Barat.

Waspada Tekanan Inflasi di Desember

Memasuki Desember 2025, beberapa faktor berpotensi mendorong inflasi, seperti bibit siklon tropis di utara Sumatera yang dapat mengganggu distribusi hortikultura, kemungkinan imported inflation akibat kenaikan harga komoditas global, serta meningkatnya harga emas seiring ketidakpastian geopolitik.

Sementara itu, faktor penahan inflasi pada bulan ini diperkirakan berasal dari percepatan penyaluran beras SPHP pada semester II-2025 serta program diskon angkutan udara menjelang Natal dan Tahun Baru.

Sinergi Pengendalian Inflasi Tetap Diperkuat

Ke depan, Bank Indonesia dan TPID menyatakan komitmennya memperkuat sinergi guna menjaga stabilitas harga di Kepri. Peningkatan produksi pangan, pelaksanaan pasar murah, penguatan kerjasama antardaerah (KAD), serta koordinasi pengendalian inflasi terus dioptimalkan agar inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5+/-1 persen.

Editor: Gokli

Bagikan:

Berita Lainnya

Belum ada berita lain untuk ditampilkan.

Berita Terbaru

Berita tidak ditemukan