Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017
Keterbatasan Akses Gizi Dorong Pemberian Kental Manis sebagai Susu Anak
Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali
Senin, 11 Agustus 2025 15:08 WIB
BATAMTODAY.COM, Jakarta - Tingginya konsumsi kental manis di sejumlah wilayah Papua diduga dipicu keterbatasan akses terhadap susu bergizi, faktor ekonomi, serta ketersediaan produk.
Data Databoks menunjukkan, tujuh dari sepuluh kabupaten/kota dengan pengeluaran per kapita tertinggi untuk kental manis berada di Papua, antara lain Kabupaten Puncak, Puncak Jaya, Yalimo, Intan Jaya, Lanny Jaya, Pegunungan Bintang, dan Nagan Raya. Rata-rata pengeluaran nasional untuk produk ini mencapai Rp 257,5 per kapita per minggu.
Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (Unnes) terhadap 100 balita di Kecamatan Semarang Utara dan Gunungpati mengungkap kebiasaan mengonsumsi kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan setiap hari.
Koordinator penelitian, Dr Mardiana, menyebut kebiasaan ini mencerminkan kesenjangan pengetahuan gizi yang serius di masyarakat. "Kental manis sebenarnya dirancang sebagai topping atau pelengkap makanan, bukan sebagai minuman utama pengganti susu. Namun di lapangan, banyak balita mengonsumsinya lebih dari tiga kali sehari, bahkan ada yang sampai tujuh kali," ujar Mardiana, dalam keterangan pers, Senin (11/8/2025).
Ia memperingatkan dampak jangka panjangnya, termasuk munculnya tren penyakit tidak menular (PTM) pada usia anak. Satu sachet kental manis mengandung sekitar 19 gram gula atau setara empat sendok teh. Jika diminum dua kali sehari, asupan gula balita sudah melebihi batas harian yang direkomendasikan Kementerian Kesehatan, yakni maksimal 25 gram atau enam sendok teh gula tambahan per hari.
Hasil wawancara penelitian menunjukkan sebagian orang tua memberikan kental manis karena label kemasan dan iklan yang menyebutnya sebagai susu. Minimnya penyuluhan gizi di sejumlah wilayah, seperti Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, semakin memperkuat praktik tersebut.
Mardiana menegaskan perlunya edukasi intensif tentang gizi anak, pangan aman, dan pemahaman label produk. "Edukasi ini penting untuk mencegah kesalahan persepsi dan melindungi kesehatan generasi masa depan," pungkasnya.
Editor: Gokli
Berita Lainnya
Berita Terbaru
Berita tidak ditemukan
