Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017
Menag RI Tekankan Ekoteologi dan Etika Kemanusiaan di Era AI pada Konferensi Internasional Mesir
Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali
Selasa, 20 Januari 2026 14:48 WIB
BATAMTODAY.COM, Jakarta - Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menegaskan pentingnya ekoteologi serta peran agama dalam menjaga kesadaran kemanusiaan di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Hal tersebut disampaikan Menag saat menjadi pembicara dalam konferensi internasional yang diselenggarakan Kementerian Wakaf Republik Arab Mesir.
Konferensi tersebut dihadiri Menteri Wakaf Mesir sekaligus Ketua Dewan Tertinggi Urusan Islam, Prof Dr Usamah Al-Sayyid Al-Azhari, serta para ulama, cendekiawan, intelektual, dan peneliti dari berbagai negara. Menteri Agama turut didampingi Direktur Penerangan Agama Islam Muchlis M Hanafi dan Tenaga Ahli Menag Bunyamin Yafid.
Mengawali paparannya, Menag menyampaikan salam hangat dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, serta apresiasi kepada Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi atas dukungan terhadap terselenggaranya konferensi internasional tersebut.
Dalam pidatonya, Menag menguraikan makna tanggung jawab manusia dalam perspektif Islam. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab manusia tidak semata berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidup, melainkan mengandung dimensi moral, amanah sosial, dan kesadaran untuk memakmurkan bumi.
"Dalam kerangka inilah kami menegaskan pentingnya ekoteologi, yaitu cara pandang yang memahami relasi manusia dan lingkungan berdasarkan prinsip amanah serta tanggung jawab etis," ujar Nasaruddin Umar di Mesir, Senin (19/1/2026).
Menurut Menag, dalam ajaran Islam bumi bukanlah milik mutlak manusia, melainkan titipan dari Tuhan. Oleh karena itu, upaya memakmurkan bumi harus disertai dengan menjaga keseimbangan alam. Setiap aktivitas atau profesi yang merusak keseimbangan tersebut dinilai menyimpang dari esensi ibadah dan tujuan pembangunan peradaban.
Menag juga menyatakan sependapat dengan pandangan Menteri Wakaf Mesir bahwa pembangunan peradaban merupakan kewajiban dalam Islam. Ia merujuk pemikiran cendekiawan Aljazair Malik bin Nabi yang menegaskan bahwa peradaban tidak hanya diukur dari kemajuan materi, melainkan dari bangunan kemanusiaan dan moral yang utuh.
"Peradaban tidak akan bangkit jika hanya meniru teknologi atau mengimpor produk peradaban. Kuncinya adalah memperbaiki manusia serta membangun kembali relasinya dengan nilai, waktu, dan kerja," tegasnya.
Ia menambahkan, kebangkitan peradaban hanya dapat terwujud ketika nilai-nilai keagamaan hidup dalam nurani manusia sebagai energi moral yang mengarahkan perilaku dan menjaga keseimbangan akal serta naluri. "Jika nilai-nilai hilang, naluri akan berjalan tanpa kendali. Ketika itu terjadi, manusia akan kehilangan kompas etiknya," ujarnya.
Tantangan Kemanusiaan di Era AI
Menag menilai tantangan utama di era kecerdasan buatan bukan terletak pada kecanggihan teknologi, melainkan pada upaya menjaga sisi kemanusiaan manusia. Dunia, kata dia, tidak hanya membutuhkan profesi yang cerdas, tetapi juga profesi yang beretika dan berlandaskan nurani.
"Peran agama hari ini adalah menjadi kompas moral bagi kemajuan, penjaga martabat manusia, serta pemberi makna terhadap kerja dan profesi di tengah dunia yang bergerak sangat cepat," kata Menag.
Ia menjelaskan, Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar terus berupaya mengaitkan pendidikan keagamaan dengan nilai-nilai profesional serta memperkuat etika kerja di lembaga negara dan masyarakat, termasuk dalam menyikapi perkembangan AI.
"Berbagai diskusi ilmiah menegaskan bahwa kecerdasan buatan, secanggih apa pun, tidak dapat menggantikan nurani keagamaan, ijtihad manusia, dan rujukan etika. AI harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai sumber fatwa atau pengganti otoritas keagamaan," jelasnya.
Menag menambahkan, tantangan sesungguhnya bukan pada penggunaan AI dalam ranah keagamaan, melainkan pada bagaimana teknologi tersebut diatur dan dikendalikan agar manusia tetap menjadi subjek utama dengan akal, nilai, dan tanggung jawab etiknya.
"Otoritas keagamaan di era kecerdasan buatan bukanlah otoritas teknis, melainkan otoritas ilmiah dan moral yang memadukan teks, akal, realitas, serta maqashid syariah," ujarnya.
Menutup paparannya, Menag menekankan bahwa dunia saat ini tidak kekurangan orang-orang cerdas, tetapi masih kekurangan nilai-nilai yang menuntun kecerdasan tersebut. "Dunia tidak hanya memerlukan akal yang maju, tetapi juga akhlak yang kokoh, tanggung jawab peradaban, dan pandangan kemanusiaan yang utuh," pungkasnya.
Editor: Gokli
Berita Lainnya
Berita Terbaru
Berita tidak ditemukan
