Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017
Mendiktisaintek Dorong Industrialisasi Berbasis Sains dan Teknologi Demi Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali
Senin, 2 Februari 2026 11:28 WIB
BATAMTODAY.COM, Bandung - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan pentingnya penguatan industrialisasi berbasis sains dan teknologi sebagai kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga delapan persen.
Penegasan tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional Alumni ITB Angkatan 1980 (ITB80) bertema "Strategi Teknologi, Industri, dan SDM Menuju Indonesia Emas 2045" yang digelar di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Sabtu (31/1/2026).
Dalam pemaparannya, Menteri Brian menyoroti tantangan deindustrialisasi yang masih dihadapi Indonesia, ditandai dengan menurunnya kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian nasional. Kondisi tersebut, menurutnya, berdampak langsung pada produktivitas dan daya saing bangsa.
Ia menyebut Indonesia memiliki potensi besar melalui bonus demografi dan kekayaan sumber daya alam. Namun, nilai tambah ekonomi hanya dapat dioptimalkan melalui penguatan riset, inovasi, serta kolaborasi yang erat antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan alumni.
"Jika Indonesia ingin menjadi negara maju dan keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap), maka kita harus membangun industri yang maju dan berbasis sains serta teknologi. Tanpa itu, pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan tidak akan tercapai," ujar Brian.
Sejalan dengan hal tersebut, Rektor ITB Tatacipta Dirgantara menyampaikan bahwa Seminar Nasional Alumni ITB80 menjadi forum strategis dalam mendorong peningkatan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.
Ia menegaskan bahwa transformasi menuju negara maju mensyaratkan penguatan kualitas sumber daya manusia dan teknologi, disertai kolaborasi yang solid antara perguruan tinggi, alumni, pemerintah, dan dunia usaha agar gagasan strategis dapat diwujudkan dalam implementasi nyata.
"Untuk keluar dari kategori negara berpenghasilan menengah, kunci utama Indonesia tidak lagi bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam semata, melainkan pada kekuatan sumber daya manusia dan teknologi. Karena itu, kolaborasi menjadi hal yang mutlak agar gagasan dapat diwujudkan menjadi kerja sama dan aksi konkret," kata Tatacipta.
Sementara itu, Ketua Ikatan Alumni ITB Angkatan 1980, Catur Iriyanto, menilai seminar tersebut sebagai ruang dialog strategis untuk merespons berbagai tantangan pembangunan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 di tengah dinamika global dan percepatan transformasi teknologi.
Menurutnya, forum ini diharapkan mampu merumuskan strategi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan melalui penguatan peran teknologi, industri, dan sumber daya manusia, sekaligus menjadi langkah awal kontribusi berkelanjutan Alumni ITB80 dalam menjembatani gagasan strategis dengan implementasi kebijakan.
"Seminar ini merupakan langkah awal ikhtiar berkelanjutan Alumni ITB80 untuk memberikan kontribusi nyata melalui pemikiran, pengalaman, dan jejaring yang kami miliki demi mendorong Indonesia yang lebih produktif, inklusif, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045," ujar Catur.
Diskusi dalam seminar tersebut terbagi ke dalam sejumlah sesi utama, antara lain pembahasan fondasi makroekonomi nasional, reformasi struktural dan sektor riil, strategi industrialisasi, penguatan pendidikan dan talenta nasional, transisi energi menuju Net Zero Emission 2060, modernisasi UMKM dan sektor pertanian, serta peran teknologi digital dan kecerdasan artifisial sebagai pengungkit produktivitas nasional.
Sebagai luaran utama, seminar ini akan menghasilkan rekomendasi strategis dan kebijakan yang dapat dieksekusi, yang selanjutnya dirangkum dalam dokumen White Paper Indonesia Emas 2045. Selain itu, forum ini juga bertujuan memperkuat jejaring kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas inovasi.
Menutup kegiatan tersebut, Menteri Brian berharap para alumni, termasuk Alumni ITB Angkatan 1980, terus menjadi pilar penting dalam mendorong kemajuan perguruan tinggi dan pembangunan nasional. Ia menekankan bahwa pengalaman, pengetahuan, dan jejaring alumni merupakan aset strategis yang sangat berharga, sebagaimana praktik di berbagai perguruan tinggi terkemuka dunia.
"Oleh karena itu, kami mendorong Alumni ITB80 untuk memperkuat kolaborasi melalui berbagai inisiatif konkret yang berdampak luas dan berskala nasional," ujar Brian.
Editor: Gokli
Berita Lainnya
Berita Terbaru
Berita tidak ditemukan
