Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017
Pemerintah Diminta Waspadai Terjadinya Perang Fisik Antara AS-China di Laut China Selatan
Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali
Jumat, 10 Juli 2020 09:08 WIB
BATAMTODAY.COM, Jakarta - Wakil Ketua DPD RI, Nono Sampono berharap semua pihak, khususnya Pemerintah mewaspadai ancaman kawasan yang dipicu konflik laut China Selatan, antara Amerika Serikat (AS) dan China. Apalagi, kedua negara sudah menempatkan kapal induk untuk menghadapi kemungkinan perang fisik.
"Karena negara ini memiliki posisi sangat strategis, baik secara ekonomi, politik, dan sumber daya alam yang melimpah. Sehingga China dan Amerika sama-sama memiliki kepentingan besar pada Indonesia," kata Nono dalam diskusi 'Pandemi dan Situasi Politik Internasional' di Gedung DPR/MPR Jakarta, Kamis (9/7/2020).
Menurut Nono Sampono, persaingan AS dan China tersebut berkonsekuensi terjadi pergeseran dagang global ke kawasan Pasifik dan barang-barang mengalir sebagian besar lewat Indonesia.
Sedangkan barang-barang logistik dari China mengalir melalui negara; Vietnam, Thailand, Laos, dan Myanmar. Karena itu, China akan mati-matian mempertahankan Vietnam dari kekuatan AS.
Dia berharap Indonesia harus memperkuat lautnya sebagai poros maritim. Syaratnya tidak ada konflik di kawasan ASEAN, kelancaran arus logistik dan semua lewat Indonesia, dan memperkuat maritim. Dengan demikian kata Nono, akan memperkuat ekonomi berbasis maritim dan militer laut.
"Apalagi sejak Mei 2018 sudah terjadi perubahan besar keamanan di Asia yang dinamakan Indo Pacifik Region. Dan, yang harus diwaspadai bukan saja sebatas kemanan perbatasan. Tapi, efek dari persaingan perdagangan global yang bakal masuk melalui jalur laut dan pemanfaatan pelabuhan Indonesia," katanya.
Anggota Komisi I DPR RI, Abdul Kadir Karding menegaskan, target politik China tahun 2025 sama dengan AS, dan 2030 siap menjadi super power menggantikan AS. Ada tiga macam perang, mengambil data AS dan Eropa, perang fisik dan ekonomi.
"Karena China sangat agresif, AS pun ikut agresif di laut China Selatan," jelas Karding.
Menurut Karding, Indonesia, dalam posisi sangat strategis dan memiliki kekayaan alam melimpah, namun tidak demikian dengan kekuatan militer.
"Demi menjaga stabilitas politik dan keamanan nasional, kita harus memiliki kekuatan diplomasi yang handal. Hanya dengan itu," kata politisi PKB tersebut.
Sementara Fadli Zon mengatakan, permainan kekuatan-kekuatan yang ada terutama Cina sebagai negara super power pengaruhnya masuk di dalam ASEAN jadi di Asean. Sehingga ASEAN tidak pernah kompak sekarang di dalam urusan Laut Cina Selatan, karena ada negara-negara tertentu yang selalu berbeda sikap dengan mayoritas negara lain dan bersikap abstain terhadap keputusan-keputusan itu.
Menurut dia, yang paling menentang Cina di Laut Cina Selatan adalah Vietnam. Kemudian beberapa yang langsung terkait adalah Malaysia, Brunei, sementara Filipina kadang pro Cina dan kadang pro Amerika.
"Saya lihat seharusnya bahwa kita harusnya memang bersiap untuk menghadapi ancaman ancaman tradisional dan non tradisional yang bisa terjadi sewaktu-waktu, Menurut saya yang paling yang paling feminin itu adalah di Laut Cina Selatan," kata Fadli Zon.
Sebab, konflik di Laut Cina Selatan bisa terjadi kapan saja. "Tidak akan bisa dihindarkan karena pihak-pihak yang bertikai menguasai." katanya.
Editor: Surya
Berita Lainnya
Berita Terbaru
Berita tidak ditemukan
