Lulus Verifikasi Dewan Pers No.126/DP-Terverifikasi/K/X/2017
Tetanggaku Idolaku...
Oleh: Admin • Dibaca: 0 kali
Jumat, 21 April 2017 08:36 WIB
BATAMTODAY.COM, Tanjungpinang - Cinta itu sulit ditebak, kadang bisa hadir tiba-tiba, kadang juga bisa hilang tiba-tiba, tidak memandang batas usia, juga tidak mengenal jarak dan waktu.
Begitu juga dengan kisah cinta unik Sekretaris Daerah Kota Tanjungpinang, Drs Riono MSi dengan Ersa Famella SSos, yang saat ini menjadi teman hidupnya.
Berawal dari tetangga, lama-lama jadi idola. Riono merupakan sosok yang penuh rasa tanggung jawab dalam bekerja, penyabar, romantis, dan penuh humoris. Inilah yang membuat Ersa jatuh hati padanya.
Ersa juga gadis cantik yang menawan, ramah dan keibuan, membuat Riono maju terus pantang mundur untuk mendapatkan Ersa sebagai tambatan hatinya. Ersa Famella kadang dipanggil dengan nama Ersa, kadang dipanggil Mella.
Ia lebih sering dipanggil Ersa oleh teman-teman sekolahnya, sedangkan Mella merupakan panggilan namanya sejak kecil. Malah Riono sepertinya lebih akrab dengan sebutan Mella kepada mantan kekasihnya itu.
Kala itu, Ersa masih duduk dibangku kelas 2 SMP, sedangkan Riono sudah duduk di bangku kelas 3 SMA.
“Kami sejak dahulu sudah bertetangga, rumah Bapak di atas dan saya di bawah, sama-sama di Jalan Pramuka Lorong Sumatra, itu lah mula pertama saya melihatnya,” ujar Ersa memulai kisahnya dengan Riono.

Benih cinta itu muncul kala Ersa masih duduk dibangku kelas 2 SMP, sedangkan Riono sudah duduk di bangku kelas 3 SMA. Dan ternyata, sejak dahulu mereka sudah bertetangga. Rumah Riono di atas dan Elsa di bawah, sama-sama di Jalan Pramuka Lorong Sumatra (Foto: Habibie Khasim)
Setelah tamat dari SMA 2 Tanjungpinang, Riono melanjutkan studi ke Universitas Padjajaran Bandung. Dia pulang ke Tanjungpinang sekali dua tahun. Tiap libur semester memang pulang, namun pulangnya tidak tiap tahun ke Tanjungpinang.
"Kalau tahun ini pulang ke Tanjungpinang maka tahun depan ia pulang ke Jawa, ketemunya jarang,” kenang Ersa.
Mereka berdua kata Ersa, tidak mengenal pacaran. Kedua orangtuanya cukup keras dan tegas dalam mendidik anak. Ersa 8 bersaudara, 5 perempuan dan 3 laki-laki. Tidak ada yang berani keluar rumah kalau tidak ada keperluan, khususnya yang perempuan. Apalagi didekati atau mendekati laki-laki.
“Kalau yang mendekati saya sih banyak, tapi cuma di atas kertas, hahaha," kata Ersa sambil tertawa.
Biasanya kalau libur sekolah tiba, jika liburnya satu minggu maka satu minggu juga di rumah, tidak kemana-mana. Bahkan selama liburan, Ersa lebih banyak menghabiskan waktu dengan aktivitas wanita, mulai dari mengemas rumah, memasak, belajar menjahit dan menyulam dengan ibunya yang sudah dilakoninya sejak ia duduk di bangku SMP.
Begitulah cara orangtuanya mendidik putrinya. Di samping itu, Ersa juga hoby menggambar, gambar apa saja bisa dibuatnya, baik gambar bangunan, baju maupun gambar-gambar wanita yang ada di majalah.

Ersa tidak tahu kalau dulunya Riono diam-diam mengintip dari jendela dan melihat Ersa berlalu dengan angkot. Padahal "usaha" yang dilakukan Riono untuk menggaet pujaan hatinya itu cukup mumpuni, dengan mencoba menawarkan "angkringan" ke tempat kerjanya Ersa, namun ditolak (Foto: Habibie Khasim)
Nah, pada tahun 1992, Ersa sudah bekerja dan kembali bertemu dengan Riono. Mereka berdua ini bertetangga dan sering berjumpa, karena Ersa harus melewati rumah Riono yang berada di atas. Sedangkan rumah Ersa berada di bawah pada lorong yang sama. Bahkan posisi rumah Ersa pun di lorong paling ujung, sedangkan di depan rumahnya masih rawa-rawa.
“Kalau pas ketemu, jumpa di simpang jalan di atas, paling saya cuma negur “mas”, terus Bapak bilang “kerja Mel”?, saya jawab iya. Terus dia nawarin “Mas antar ya? Gak lah, nunggu teman jemput,” kata Ersa.
Riono akhirnya cuma bisa berucap "ooohh". Setelah itu Riono pun masuk ke dalam rumah. Begitu melihat Riono sudah masuk ke dalam rumah, Ersa pun langsung naik angkot.
Tapi sebenarnya Ersa tidak tahu kalau sampai di rumah, diam-diam Riono mengintip dari jendela dan melihat Ersa berlalu dengan angkot.
Setelah keduanya "jadian", barulah Riono bercerita ke Ersa, kalau selama ini tawarannya ditolak karena Ersa dijemput teman, padahal ia naik angkot.
“Emang lah kamu ni ya, mau diantar katanya dijemput teman, eh malah naik angkot,” ujar Riono namun Ersa hanya tertawa.
“Dalam hati saya takut terhutang budi, karena Bapak saya mengajarkan kalau ada laki-laki nawarin apa saja ditolak, ya tentulah saya ikut ajaran Bapak saya, semua kena tolak, hahahaa,” kata Ersa sambil tertawa mengingat kisah lucunya itu.
Riono,kata Ersa lagi, sering ke rumahnya ketika mau ada acara keramaian menyambut perayaan 17 Agustus. Dia datang ke rumah Ersa sendirian, untuk memungut sumbangan, menggantikan abangnya (almarhum Teguh) yang saat itu sebagai Ketua RT di wilayah tempat tinggal mereka.
"Kalau ke rumah, sengaja giliran rumah saya paling terakhir, katanya biar bisa ngobrol lama-lama, tapi saya tidak pernah ikut nimbrung, usai mengantar minuman langsung ke belakang,” kata Ersa.
Kecantikan dan keramahan Ersa ternyata menjadi magnet tersendiri bagi Riono, sehingga ia semangat maju terus pantang mundur (waw keren) untuk merebut hati Ersa.
Padahal sebelumnya, Rianto, adik kandung Riono, meyampaikan kepada Riono tentang Ersa. “Kelik (nama panggilan Riono), di bawah itu ada lima orang lho anak gadis Pak Jaksa, pada cantik-cantik semua,” tutur Rianto. Namun Riono hanya tersenyum-senyum saja saat itu.
Pernah suatu ketika, Ersa dapat kejutan dari Riono berupa kartu ucapan “Selamat Ulang Tahun”. Awalnya kaget juga, siapa yang ngirimin kartu ya? tapi ketika dilihat sampulnya stempel Bandung, Ersa jadi tahu pengirimnya.
Riono mendapatkan tanggal lahir Ersa dari arsip yang ada di rumah abangnya. Meskipun hanya selembar kartu, tapi sudah bisa membuat hati Ersa berbunga-bunga. Ersa pernah sampaikan kepada kedua orangtuanya, bila nanti usianya sudah memasuki 25 tahun ia tidak keberatan dijodohkan dengan pria pilihan ayah dan bundanya, karena ia sangat patuh kepada kedua orangtuanya.
Riono akhirnya memberanikan diri mendekati Ersa. “Mas gak memaksa, kalau gak terima gak apa-apa, paling sedih 2 hari".
"Iiiihh.. amit-amit ngomongnya gitu, saya cuma senyum-senyum aja, padahal dia sudah mengirim intel tu untuk cari tahu, saya mau terima atau tidak, haha,” kata Ersa sambil tertawa.
3 bulan kemudian, Riono tiba-tiba datang melamarnya. Ia pun terkejut bercampur bahagia. Pada tanggal 8 Februari 1994, Riono dan Ersa bertunangan. Tunangan itu berlangsung selama 1 tahun 3 bulan.
Pertunangan terbilang cukup lama, agar keduanya bisa saling mengenal kepribadian masing-masing antara satu dengan lainnya. Dan tepat pada tanggal 19 Mei 1995, Riono dan Ersa resmi melangsungkan pernikahan.

Meskipun hanya selembar kartu ucapan “Selamat Ulang Tahun” dari Riono, namun saat itu sudah bisa membuat hati Ersa berbunga-bunga. So sweet...romantis banget ya...(Foto: Habibie Khasim)
Saat ini Riono dan Ersa sudah dikaruniai 4 orang anak, 2 putra dan 2 putri, tampan dan cantik jelita, tidak jauh beda dengan kedua orangtuanya.
Rekan-rekan Ersa pernah bertanya, mengapa Ersa mau menikah dengan Riono. “Ngapa sih kamu mau sama orang yang kayak gitu, sudahlah hitam kerjanya di tempat kering pula,” kenang Ersa.
Ersa menjawab dengan santai, baginya gak ada masalah, cinta mengalahkan segalanya. Baginya, Riono orangnya baik, berpotensi dan penuh rasa tanggung jawab.
“Saat itu Bapak memang bekerja di BKKBN Tanjung Balai Karimun, kami memulai kehidupan di sana, dari nol. Kami pun juga mengalami masa-masa sulit, waktu itu Bapak sering tugas ke luar daerah, meskipun uang tidak tersedia, tapi kulkas selalu penuh," katanya.
Seiring berjalannya waktu, keluarga kecil itu pun memulai kehidupan keseharian secara perlahan-lahan. Riono menurut Esra, memang lah tipe lelaki penyabar dengan berbagai macam kemelut hidup yang dihadapi, tapi tetap mereka jalani bersama dengan tabah.
Di Karimun, Ersa mulai merintis bisnis kecil-kecilan di rumah, untuk penyewaan ojek dan penjualan perabot hiasan rumah dari batu onix, yang didatangkan dari pulau Jawa. Saat itu Ersa belum menjadi PNS, dan bakat bisnisnya terus berkembang dengan hasil yang memuaskan.
Bisnis santan kelapa pun merupakan bisnis pertama yang dirintisnya di Karimun. Di samping itu, ia juga memiliki kedai kopi, konveksi dan rumah kos.
Ersa sudah punya bakat bisnis sejak duduk di bangku kelas 4 SD, usahanya ini terus berkembang sampai sekarang. Bakat tersebut kini turun kepada putranya.
Hari-hari dilaluinya bersama, mensyukuri apa yang diberi Sang Pencipta. Riono yang awal pengangkatannya merupakan PNS Pusat di BKKBN Kecamatan Karimun, Kabupaten Kepulauan Riau, sejak tahun 1995 bekerja sebagai penyuluh KB.
Karena ia bekerja bersungguh-sungguh, menjadi perhatian Sekda Karimun, hingga ia diminta untuk pindah dan bekerja sebagai PNS Karimun. Karirnya terus melonjak, tahun 2005 hingga akhir 2010, Riono pindah ke Pemkab Bintan sebagai Sekretaris BKD.
Sedangkan Ersa pada tahun 2003 diangkat mejadi PNS Pemko Tanjungpinang, kemudian ia pindah ke Provinsi, sedangkan Riono pun ikut hijrah ke Provinsi Kepri pada tahun 2010 sebagai Sekretaris BKD.
Jabatan tersebut diembannya selama 6 bulan. Pada bulan Maret 2012, Riono dilantik menjadi Kepala Biro Humas dan Protokol. Ia memimpin Humas dan Protokol selama 1 tahun 7 bulan. Setelah itu ia dilantik menjadi Kadispora Provinsi Kepri dan berkiprah di sana selama 9 bulan.
Pada tanggal 10 Juli 2014 ia pindah ke Pemko Tanjungpinang, menjabat Sekretaris Daerah Kota Tanjungpinang hingga sekarang.
“Kami berdua sama-sama suka bercanda, sama-sama hebohnya, kalu berbicara juga suka ceplas-ceplos, suka merajuk, kadang-kadang orang bilang kami ini seperti orang pacaran aja,” ungkap Ersa dengan wajah berseri-seri.
Mungkin itulah salah satu penyebab beban hidup yang berat terasa ringan. Berkat keuletan dan kegigihannya, akhirnya Riono kini berhasil menduduki jabatan sebagai Sekda di Pemko Tanjungpinang yang merupakan jabatan tertinggi Aparatur Sipil Negara.
Di tengah-tengah kesibukan kerja, Riono masih bisa meluangkan waktu untuk keluarga. Waktu luang digunakannya untuk berkumpul bersama anak dan istrinya.
“Kalau Bapak tidak ada kegiatan hari Sabtu atau Minggu, biasanya saya sama Bapak dari pagi sampai sore jalan-jalan pakai motor, rasanya asyik juga,” cerita Ersa.
“Memasuki usia Bapak ke-50 tahun, tepatnya 16 April lalu, saya berharap sesibuk apapun Bapak, tetaplah menjadi imam yang baik dan perhatian dengan keluarga,” harap Ersa lagi.
Untuk meraih semua impian itu tidaklah mudah, tentulah dimulai dengan pengorbanan, perjuangan yang panjang dan jalan berliku penuh rintangan. Tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Namun hidup ini akan terasa indah bila kita jalani, kita nikmati dan kita syukuri, semua karunia Illahi.
“Selamat Ulang Tahun Pak Sekda, teruslah berkarya dengan inovasi dan kreasi membangun Tanjungpinang Gemilang,” ujar Humas Pemko Tanjungpinang, Elvi Arianti SPt, MSi beserta jajaran Pemko Tanjungpinang.
Editor: Udin
Berita Lainnya
Berita Terbaru
Berita tidak ditemukan
